Chinook Jepang Mulai Water Bombing di Ketapang, Operasi Perdana Sasar Karhutla Pagar Mentimun

 


KI.ID - KETAPANG — Upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, mendapat tambahan kekuatan melalui operasi udara menggunakan helikopter Chinook CH-47 milik Jepang.

Helikopter tersebut akhirnya melakukan water bombing perdana di Kabupaten Ketapang setelah operasi udara sebelumnya sempat tertunda selama dua hari akibat kondisi jarak pandang (visibility) yang terbatas karena kabut asap.

Operasi perdana dilakukan di Desa Pagar Mentimun, Kecamatan Matan Hilir Selatan, Kabupaten Ketapang. Berdasarkan keterangan Perwakilan Kementerian Pertahanan melalui Liaison Officer (LO) Chinook CH-47 Jepang, Kapten Pnb Dhimas Jati, satu helikopter melaksanakan satu sortie dengan tiga kali run pemadaman.

Operasi tersebut menjadi bagian dari dukungan Pemerintah Jepang melalui Japan Self-Defense Forces (JSDF) dalam membantu Indonesia menangani karhutla yang melanda sejumlah wilayah di Kalimantan Barat, termasuk Kabupaten Ketapang.

Sebelum melakukan pemadaman, tiga unit Chinook CH-47 yang berada di Kalimantan Barat belum dapat menjalankan operasi secara maksimal. Faktor keselamatan penerbangan menjadi pertimbangan utama karena jarak pandang di wilayah operasi masih terbatas akibat kabut asap.

Dari tiga helikopter yang dikerahkan, satu unit kemudian dapat diterbangkan menuju Ketapang setelah kondisi visibility memungkinkan.

Sementara itu, dua unit Chinook lainnya masih berada di Pelabuhan Internasional Kijing, Kabupaten Mempawah. Salah satu helikopter disebut belum dapat melakukan penerbangan dan hanya menjalani ground run atau pemeriksaan di darat, sedangkan satu unit lainnya masih dalam posisi standby menunggu arahan operasi.

Kondisi jarak pandang menjadi salah satu tantangan dalam pelaksanaan pemadaman melalui udara. Selain berkaitan dengan efektivitas operasi, aspek tersebut juga menyangkut keselamatan penerbangan bagi awak dan personel yang terlibat.

Dalam operasi perdana tersebut, wilayah Desa Pagar Mentimun, Kecamatan Matan Hilir Selatan, menjadi salah satu lokasi yang disasar untuk pemadaman melalui udara.

Berdasarkan hasil briefing tim terpadu penanganan karhutla Kalimantan Barat, operasi Chinook di Ketapang direncanakan kembali dilanjutkan pada Kamis, 24 September 2026.

Satu helikopter yang berada di Ketapang dijadwalkan melaksanakan dua sortie water bombing dengan sasaran Pagar Mentimun serta wilayah Kecamatan Kendawangan.

Sementara dua helikopter yang masih berada di Kijing Mempawah akan diarahkan menuju lokasi pemadaman terdekat apabila kondisi jarak pandang telah memenuhi persyaratan penerbangan.

Dengan demikian, operasi Chinook Jepang tidak hanya diarahkan untuk memadamkan api di satu titik, tetapi menjadi bagian dari strategi penanganan karhutla melalui pengerahan kekuatan udara berdasarkan kondisi lapangan dan keselamatan penerbangan.

Deputi III Bidang Penanganan Darurat BNPB Mayjen TNI Budi Irawan mengatakan dukungan Chinook CH-47 merupakan bagian dari misi kemanusiaan Pemerintah Jepang untuk membantu Indonesia menangani karhutla di Kalimantan Barat.

Ketapang menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian dalam operasi tersebut karena kondisi tanpa hujan dalam waktu cukup lama turut meningkatkan risiko meluasnya kebakaran.

Operasi udara menggunakan Chinook kemudian diperkuat dengan unsur penanganan di darat yang melibatkan BNPB, TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni serta Masyarakat Peduli Api.

Kementerian Kehutanan juga menyatakan operasi pengendalian karhutla tetap dilakukan melalui kombinasi operasi darat, water bombing, patroli udara dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Data SiPongi hingga 23 September 2026 mencatat Kalimantan Barat memiliki 33 titik hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi, turun dari 50 titik pada hari sebelumnya.

Kehadiran Chinook CH-47 di Ketapang diharapkan dapat memperkuat upaya pemadaman, terutama terhadap titik-titik kebakaran yang sulit dijangkau melalui jalur darat.

Di sisi lain, kondisi kabut asap tetap menjadi tantangan dalam operasi udara. Karena itu, pelaksanaan water bombing harus terus menyesuaikan kondisi visibility dan perkembangan kebakaran di lapangan.

Operasi perdana di Pagar Mentimun menjadi langkah awal keterlibatan langsung Chinook Jepang dalam pemadaman karhutla di Ketapang. Selanjutnya, efektivitas operasi akan sangat bergantung pada kondisi cuaca, jarak pandang, lokasi titik api serta koordinasi antara unsur udara dan tim pemadam di darat. 


0 Komentar